Waspada! Gunung Anak Krakatau Meletus, Erupsinya Memicu Dentuman di Tiga Provinsi Namun
--
LOKA ASCOMAXX – Masyarakat diimbau waspada dan menjauh dari titik letusan sejauh 3km minimal. Dalam keterangannya Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menyampaikan bahwa suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di Jawa Barat termasuk Bandung Raya, Banten, dan Lampung, berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Krakatau yang dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, berlangsung pada waktu yang sama (23.07-04.40 WIB).
"Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama," jelas Lana ketika ditanyai mengenai hal ini.
Baca: Kronologi Kebakaran Gudang Sabun Wings Surya di Gresik Libatkan Damkar Surabaya, Tak Ada Korban Jiwa
Berdasarkan penuturannya walaupun jaraknya jauh dari Gunung Anak Krakatau, suara dentuman terdengar hingga Bandung Raya, bisa disebabkan ekspansi cepat pelepasan gas, serta gesekan dan turbulensi aliran lava dengan kecepatan tinggi pada konduit (lubang kepundan).
"Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun beberapa wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas," tuturnya.
Gunung Anak Krakatau Meletus
Seperti yang kita tahu, Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Lampung Selatan dilaporkan sedang mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026) malam. Material erupsi berhamburan hingga merusak kamera pengawas (CCTV).
"Kamera CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik," ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Sabtu (5/9/2026).
Diketahui bahwa peletakan kamera CCTV ini berfungsi untuk merekam aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terakhir kali pukul 01.01 WIB, ketika itu terjadi fenomena lava fountain atau lava air mancur.
Tercatat bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau berlangsung mulai Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga pagi. Erupsi juga disertai terdengarnya dentuman dan suara gemuruh dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.
"Terdengarnya dentuman dan suara gemuruh dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau menjadi bagian dari aktivitas erupsi yang masih berlangsung. Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunung api untuk melihat aktivitas erupsi maupun mengambil gambar atau video, mengingat masih terdapat potensi lontaran material dari kawah aktif," tuturnya.
Gunung Anak Krakatau terekam meletus dengan amplitudo 70 milimeter dan durasi mencapai 6 jam. Sementara itu, kondisi cuaca di sekitar gunung terpantau berawan hingga mendung dengan tiupan angin lemah hingga sedang ke arah barat laut.
Gunung Anak Krakatau Level III (Siaga)
Berdasarkan laporan situasi terbaru dinyatakan bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III (Siaga). Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan maupun pendaki untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Namun masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Banten dan Lampung, tidak perlu panik terhadap isu tsunami, akan tetapi diimbau untuk mengikuti perkembangan informasi resmi.
Sampai saat ini pemerintah terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau dan akan menyampaikan informasi apabila terdapat perubahan kondisi yang perlu diketahui masyarakat.
Suwarno, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, menyatakan, erupsi masih berlangsung hingga Sabtu pagi.
Masyarakat diminta untuk mewaspadai ancaman bahaya awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Sampai pada Sabtu (05/09) aktivitas erupsi dilaporkan masih berlangsung. Badan Geologi menyatakan belum terdapat indikasi peningkatan risiko tsunami.
Berdasarkan hasil evaluasi terbaru, tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi dan longsoran besar pada Desember 2018, masih relatif kecil dan tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Akan tetapi, otoritas terkait menegaskan bahwa perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi gunung terus dipantau secara intensif.
Seperti yang kita tahu Anak Krakatau adalah salah satu gunung api aktif. Ia berlokasi di kawasan Selat Sunda, lokasi yang dikenal karena letusan dahsyat Krakatau pada 1883.
Gunung ini juga mengalami longsoran sebagian tubuh gunung pada Desember 2018 yang memicu tsunami di sekitar Selat Sunda. Sejak kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada 2 Juli 2026, Anak Krakatau berada pada status Siaga dan terus memperlihatkan aktivitas vulkanik berupa erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik.
Demikianlah informasi mengenai letusan Gunung Anak Krakatau. Jadi Pastikan kamu mengikuti kami untuk terus mendapatkan informasi terupdate!