Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Meluncur Sejauh 15 Km di Langit Selat Sunda Hingga Rusak CCTV Pemantau
--
LOKA ASCOMAXX – Tengah menjadi perbincangan di kalangan masyarakat! Berikut ini akan kami sampaikan informasi mengenai Gunung Anak Krakatau Erupsi yang wajib kamu tahu. Simak informasi selengkapnya yang sudah kami rangkum di sini!
Berdasarkan laporan situasi terbaru dinyatakan bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III (Siaga). Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan maupun pendaki untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Namun masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Banten dan Lampung, tidak perlu panik terhadap isu tsunami, akan tetapi diimbau untuk mengikuti perkembangan informasi resmi.
Baca: Waspada! Gunung Anak Krakatau Meletus, Erupsinya Memicu Dentuman di Tiga Provinsi Namun
Gunung Anak Krakatau Erupsi
Sampai saat ini pemerintah terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau dan akan menyampaikan informasi apabila terdapat perubahan kondisi yang perlu diketahui masyarakat.
Suwarno, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, menyatakan, erupsi masih berlangsung hingga Sabtu pagi.
Masyarakat diminta untuk mewaspadai ancaman bahaya awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Sampai pada Sabtu (05/09) aktivitas erupsi dilaporkan masih berlangsung. Badan Geologi menyatakan belum terdapat indikasi peningkatan risiko tsunami.
Berdasarkan hasil evaluasi terbaru, tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi dan longsoran besar pada Desember 2018, masih relatif kecil dan tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Akan tetapi, otoritas terkait menegaskan bahwa perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi gunung terus dipantau secara intensif.
Seperti yang kita tahu Anak Krakatau adalah salah satu gunung api aktif. Ia berlokasi di kawasan Selat Sunda, lokasi yang dikenal karena letusan dahsyat Krakatau pada 1883.
Gunung ini juga mengalami longsoran sebagian tubuh gunung pada Desember 2018 yang memicu tsunami di sekitar Selat Sunda. Sejak kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada 2 Juli 2026, Anak Krakatau berada pada status Siaga dan terus memperlihatkan aktivitas vulkanik berupa erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik.
Otoritas vulkanologi menyatakan erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau, masih berada dalam karakteristik aktivitas yang umum terjadi.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, mengatakan BMKG telah melakukan pengecekan terhadap data monitoring kegempaan, aktivitas petir, kondisi cuaca, serta magnet bumi menyusul laporan suara dentuman yang terdengar di wilayah Bandung Raya.
Berdasarkan hasil pemantauan, BMKG tidak mendeteksi adanya aktivitas kegempaan yang signifikan di wilayah Bandung Raya pada saat kejadian. Aktivitas seismik di Sesar Lembang juga dinyatakan tidak menunjukkan perkembangan yang berkaitan dengan fenomena tersebut.
Di sisi lain, citra satelit Himawari menunjukkan adanya aktivitas vulkanik di kawasan Gunung Anak Krakatau pada periode yang sama.
"Pada jam yang sama tersebut, terjadi aktivitas vulkanik di Krakatau," kata Suaidi dalam konferensi pers, Sabtu.
BMKG menyebut fenomena yang dilaporkan warga tersebut sebagai skyquake atau dentuman langit.
"Nah, skyquake ini, itu fenomenanya masih belum bisa dijelaskan secara akademis, terkait dengan dentuman ini," katanya.
Demikianlah informasi mengenai berita yang tengah viral diantara masyarakat tanah air ini mengenai Gunung Anak Krakatau Erupsi. Jadi Pastikan kamu mengikuti kami untuk terus mendapatkan informasi terupdate!